Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Beliau adalah tuan kita, teladan dari semua wali terbaik, papan
arah menuju arah yang benar, beliau adalah poros ketuhanan (Qutub
Rabbani), nama lengkap beliau adalah Abu Shalih Sayyidi ‘Abdul Qadir bin
Musa bin ‘Abbdullah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa
al-Jun bin ‘Abdullah al-Mahdhi bin al-Hasan al-Musatanna bin al-Hasan
bin Ali bin Abi Thalib. Beliau yang terkenal dengan nama ‘Abdul Qadir
al-Jailani. Beliau lahir pada tahun 470 H, dan wafat pada tahun 561 H.
dimakamkan di Baghdad.
Ibu beliau adalah Ummul Khair (dalam bahasa arab berarti ibu
kebaikan), ia pernah berkisah: “Ketika aku melahirkan ‘Abdul Qadir
al-Jailani, dia tidak mau menyusu ke puntingku selama siang hari bulan
Ramadhan. Bulan baru Ramadhan suatu kali tertutup awan sehingga
orang-orang datang kepadaku dan bertanya tentang ‘Abdul Qadir
al-Jailani, maka aku katakan kepada mereka, bahwa ‘dia tidak menyusu
pada puntiingku hari ini.’ Hal itu kemudian menjadi isyarat yang jelas
bahwa hari itu adalah awal Ramadhan.”
Kabar tersebut lalu menyebar luas, bahwa seorang bocah (‘Abdul
Qadir al-Jailani) lahir dengan membawa berbagai kemuliaan (keajaiban),
dan bahwa ia adalah bayi yang tidak mau menyusu di siang hari Ramadhan.
Dan dikabarkan pula, bahwa sang Ibunda mengandungnya ketika berusia 16th. Dikatakan bahwa, tidak mungkin ada gadis 16th bisa hamil kecuali dia perempuan Quraisy, dan tidak ada gadis 16th yang bisa punya anak kecuali dia pasti orang Arab.
Ketika ‘Abdul Qadir al-Jailani lahir, sang bayi disambut oleh
tangan-tangan keanugerahan yang agung, dan sang bayi diliputi oleh
cahaya petunjuk di belakangnya maupun di depannya.
Ketika ‘Abdul Qadir al-Jailani berusia 5th, sang ibu mengirimkannya ke sebuah madrasah lokal di Jilan. Beliau menuntut ilmu di madrasah tersebut hingga berumur 10th.
Selama belajar di madrasah tersebut, beberapa peristiwa menakjubkan
terjadi. Setiap kali ‘Abdul Qadir al-Jailani akan memasuki madrasah,
beliau melihat sosok-sosok bercahaya yang berjalan di depanya sambil
berkata, “Beri jalan untuk Wali Allah!” Dan ketika beliau pernah ditanya
kapan beliau mengetahui bahwa dirinya menerima walayah (pangkat
kewalian), beliau menjawab, “Ketika aku berusia sepuluh tahun, kulihat
para malaikat berjalan mengiringiku dalam perjalanan menuju madrasah,
dan mereka selalu berkata, “Beri jalan untuk Wali Allah.” Kejadian itu
terus menerus berulang sampai aku paham bahwa aku dianugerahi walayah.”